Hari libur telah tiba,
bertepatan pada bulan januari 2017 kami para mahasiswa di perguruan tinggi
telah menyelesaikan ujian final/UAS (Ujian Akhir Semester). Libur bagi ku yang
sekarang terasa biasa saja, entah mengapa atmosfer yang namanya libur itu tidak
terasa begitu wah bagiku, entah mungkin karena aku tidak pergi kemana-mana
untuk menikmati waktu liburku yang berharga, entah juga karena waktu liburnya
singkat hehe.
Libur kali ini adalah
libur kenaikan semester, ya, kenaikan semester ku yang ke-6. Di semester ini
setiap anak pada fakultas ku diharuskan memilih satu jurusan konsentrasi sesuai
dengan bakat minat yang ia miliki, kebetulan aku berkuliah di jurusan hukum.
Pada jurusan hukum di universitas ku terdapat 3 jurusan yang disediakan untuk
kami pilih, yaitu Pidana, Perdata, & HTN.
Diharuskannya dalam
memilih mata kuliah pilihan ini sempat membuat ku bingung, dari 3 jurusan
konsentrasi yang ditawarkan, 2 diantaranya menurutku aku mampu menguasainya,
yaitu Perdata & HTN. Kalau pidana sih rasanya aku tidak terlalu berbakat
hehe. Ditambah lagi kami para mahasiswa harus mengambil setiap mata kuliah
wajib yang telah disuguhkan.
Belum lagi pada
semester ini aku menjumpai seorang dosen yang terkenal killernya dalam
mengajar, memang pada kelas ku si dosen ini belum pernah masuk untuk mengajar
sih, tapi dari dosen-dosen lain dan dari kakak semester yang pernah diajar
olehnya, mengatakan bahwa memang dosen satu ini mengerikan. Pada satu moment
aku pernah bepapasan dengan si dosen yang terkenal killernya ini, dan benar
saja, orangnya kaku dan jarang jarang jarang sekali terlihat senyum diwajahnya
hahaha.
Namun kupikir ah
sudahlah, tentunya ini tantangan baru bagi ku, tidak usah banyak berfikir
negatif, pastinya dosen tersebut begitu karena memang sudah sifatnya, dan
beliau mungkin dalam mengajar lebih tepatnya bukan killer, tetapi itulah
ketegasannya dalam mengajar yang beliau terapkan pada setiap mahasiswanya.
Pastinya seorang pengajar bertujuan untuk memberikan ilmu yang baik bukan ?
apalagi kami berkuliah pada jurusan yang terbilang haruslah orang-orang tegar
yang berada didalamnya, maka haruslah kami ditempa agar menjadi praktisi hukum
yang baik dan hebat.
Pada akhirnya aku hanya
memasrahkan ini semua pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada suatu ketentuan
dalam hidupku, bahkan sampai sedetil-detilnya yang luput dari kehendak-Nya. Dengan
bertakwa, berdoa, dan terus berusaha, aku yakin bahwa dimanapun, dan dengan
siapapun, Allah pasti memberikan yang baik kepadaku dan mengatur yang terbaik
untuk masa depan ku yang super. Dengan ketentuan dan syarat yang berlaku
tentunya, seperti kata ustad Yusuf Mansur hehe.

