Thursday, June 29, 2017

Traktiran

     "Hoi somplak ! Udaah kau tenang aja, hari ini aku traktir, aku ada rejeki ini dikit" Begitulah kerap kali miun memanggil junet teman akrabnya dengan panggilan yang aneh-aneh namun itulah tanda keakraban mereka.

     Junet dan miun, mereka sudah berteman sejak mereka duduk dikelas 7, SMP Negeri Sehati di kota Bandung, dan sekarang mereka telah duduk dibangku kuliah pada universitas dan jurusan yang sama pula. Miun orang yang ceria, cerdik dan juga tidak jaim dalam keadaan apapun, dia dikenal orang yang mudah berekspresi dalam kalangan kawan kaean sekitarnya, berbeda terbalik dengan junet, orangnya pendiam dan tertutup, bisa dibilang miunlah yang selalu mendorongnya untuk lebih bisa mengatakan isi hatinya dan berekspresi. Mereka berdua seperti teman yang saling melengkapi satu sama lain.

    Hari ini miun sedang senang, ia baru saja mendapat uang upah hasil ia bekerja sampingan di toko koh Acong yang berjualan sembako. Toko koh Acong terkenal ramai dengan Pembelli karena keramahan si pemilik toko tersebut dan kemurahan hatinya dalam memberikan potongan harga kepada setiap orang yang pergi berbelanja ke tokonya.

    "Yuk kita muter-muter kota, kita cari atam penyet cabe ijo, eh kebetulan yang disana itu enak loh, ah aku tau tempatnya" ucap miun dengan penuh semangat dihadapan junet.

    "Yauda okey.., tapi beneran niih kau traktir. Itu upah dari hasil kerja kau loh. Jadi enggak enak nih aku un” junet menanggapi dengan senyum lebar.

    “ah kau santai aja kali net, kayak baru kenal aku kemaren sore aja. Palingan kita makan berdua Cuma abis berapa, sekali-kali pun makan enak, biar badan mu itu ada asupan gizinya dikit, jangan makan ikan asin sama sambel belacan doing tiap hari hahahaha” kelakar miun dengan wajah sedikit meledek.

  “kampret kau un” balasan ejekan pasrah dari junet.

    Miun memang teman yang baik, ia juga tidak pelit ketika ada kelebihan rezeki, untuk mentraktir teman-temannya. Terkadang bahkan, ada suatu ketika miun membeli es lilin kios di pinggir jalan, ia tidak hanya membeli untuk dirinya sendiri, tetapi ia membelinya lebih, sampai satu kantong plastik kresek, dengan tujuan agar sampai disekolah ketika teman teman melihatnya sedang menyeruput es lilin yang ditangannya dan lalu ada yang meminta, ia bisa membagi baginya keteman satu kelas yg lain, hingga tidak hanya dia yang menikmati kesegaran es lilin tersebut.

    "Net, kau maunya makan apa ?" miun bertanya sembari memacu sepeda motor yg kami kendarai.

    " kalau aku sih kayanya bakso, nih 'un" junet menjawab asal sembari mengerutkan dahi pura-pura berfikir.

    "yauda ayo kita cari bakso aja, tapi aku pingin makan yang ada nasinya niih" balas miun dengan sedikit berteriak karna rusuhnya jalanan.

    "yauda kalo gitu, coba kita singgah kewarung bakso yang dijalan sentosa itu, kayanya ada nasinya deh" miun memeberi saran.

    Singgah lah mereka berdua ke warung   yang ada dipinggir jalan, yang pelanggannya kelihatan ramai. Turunlah junet dari boncengan sepeda motor miun dengan maksud bertanya kepada abang penjual bakso, apakah bisa makan bakso disitu dengan tambahan nasi. Karna memang bakso memang terdengar tidak mainstream jika dijadikan teman santapan bersama nasi putih.

    "Bang disini ada nasinya gak ? Kami mau makan baksonya dengan nasi bang ! Bisa ?" junet bertanya sambil mengelap keringat didahinya karena sinar matahari pada hari itu memang cukup terik.

    "Ooh bisa bisa dik, bisa.." dengan singkatnya abang penjual memberikan jawaban.

    " un sini, bisa nih ! Ada nasinya" dari kejauhan junet sambil melambai-lambaikan tangannya.

    Mata mereka pun melirik kesana kemari untuk mencari posisi yang oaling apik untuk mereka duduki, karena ramainya pengunjung warung pada saat itu, mereka sempat bingung mendapati meja kosong. Akhirnya pencarian meja yang kosong mereka dapati, tepat di tengah agak kedepan, posisi strategis bagi mereka karena dekat dengan mas mas si penjual bakso, hingga dengan mudah mereka dapat memesan.

    Dengan menyenderkan tubuh mereka kekursi sembari melepaskan penat selama diperjalanan, mereka tiba-tiba didatangi oleh seorang pelayan bisa dibilang, seorang pelayan yang bekerja di warung tersebut.

    "Menunya bang ?" miun meminta menu sebagai formalitas. "Bang, kalo gitu teman saya pesen bakso biasa, nah saya pesen bakso pakai nasi ya" sambungnya.

    "Wah kalau denga nasi tidak ada dek, tukang masinya belum ada tuh" si abang pelayan memeberikan keterangan yang sontak membuat kami heran.

    "Loh, tapi tadi itu mas mas yang depan bilang bisa dengan nasi !? Gmna sih mas" miun sampai dengan mengerut ngerutkan dahi.

    "Iya dek, tapi memang tidak ada nasinya, enggak bisa pake nasi dek" abang pelayan dengan sabar menjawab.

    "Yah jadi gmna dong, kami udah duduk niih, masa harus keluar lagi !? enggak enak banget dong" miun mulai berkata dengan nada kurang enak didengar.

    "Sudah sudah, kalau tidak ada ayo kita keluar saja, enggak aoa apa kok un, ayo kita keliling lagi" junet dengan seketika langsung melerai perdebatan kecil mereka.

    Junet tau, sahabatnya miun memang berwatak keras kepala juga, dia akan teguh pada pendiriannya sampai ia mendapatkan apa yang ia mau, begitulah junet mengenal temannya miun sejak lama, tapi dibalik itu semua, semua sifat baiknya jauh lebih banyak dibandingnya sedikit sifat buruknya, dan junet akan selalu mengingatkan sahabatnya miun jika didapatinya keras kepala sahabatnya ini tiba2 muncul.

    "Hufft.. Yaudadeh kalo begitu, maaf ya bang, kami cari tempat lain aja, makasih bang.." akhirnya miun mengalah dan junet berhasil meredam keras kepala miun.

    Mereka bangkit dan pergi beranjak dari tempat duduk yang padahal sudah susah mereka dapati. Menuju keparkiran, mengambil sepeda motor mereka dan langsung memacunya dengan kecepatan sedang. Mendapati sinar matahari yang cukup terik, membalut tubuh mereka hingga terasa panasnya sampai tenggorokan, dahaga suatu yang tak terelakkan lagi bagi mereka.

    "Tapi kan kau kepinginnyaa bakso, gimana nih, kita cari kemana lagi ? Disekitar sini jarang ada yang jualan bakso net" miun berbicara memecah lamunan junet yang lalaian melihat keramaian jalanan.

    "ooh itu.. Gak masalah kok un, aku pun tadi cuma ngasal sebut hahaha, gak kepingin kepingin banget kok. Lagian tadi kan kau katanya kepingin makan ayam penyet, kenapa kita enggak cari itu aja ?” junet memberi saran.

   “iya sih aku tadinnya kepingin makan itu, tapi karna kamu katanya kepingin makan bakso makanya aku bersikeras cari bakso aja. Yauda deh, ayo kita ke ayam penyet cabe ijo di daerah situ” dengan senang hati miun nenaggapi sarannya junet.

    “ooh jadi ternyata temanku ini dari tadi demi memenuhi  yang dikiranya seleraku tadi bakso makanya ia menurutinya. Wah sampai sedetail itu ia peduli dengan orang lain, bahkan sampai ke urusan makanan. Sugguh teman yang sangat baik kau miun, yah walaupun tingkah mu slengek’an hehehe” dalang lamunan junet berbisik dari dalam hatinya.

   Begitulah miun yang selama ini dikenal banyak orang, keluarga, serta teman-teman sekitarnya. Ia adalah orang yang lebih dahulu memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Ia tak segan dalam hal membantu orang lain.

    “heh somplak kenapa diem aja !? kesambet yak ? apa jangan-jangan kau lagi mikir yang ngeres gara-gara banyak liat cewek cantik dijalanan ini !? hahaha” kelakar miun memecah lamunan junet.

    “kampret kau un, mana mungkin anak tampan berwajah lugu macam aku ini berfikiran begitu” junet menyahut spontan dengan nyeleneh.

     Mereka memacu kendaraan mereka ditengah padatnya jalanan kota, hingga sampailah mereka di teras palantaran rumah makan yang bertemakan cat dinding hijau, dan dihiasi bangku-bangku serta meja kayu yang tingginya sedang hingga nyaman untuk diduduki. Mereka dapati bangku kosong tepat di bagian depan dari warung makan tersebut. Tidak susah-susah untuk mencari bangku seperti di tempat warung bakso yang sempat membuat mereka kecewa tadi.

    Akhirnya apa yang mereka cari mereka dapati. Sepenggal kisah pertemanan biasa namun renyah antara mereka karena dibumbui akan kepedulian, dan saling melengkapi antar persahabatan. Persahabatan yang mungkin terlihat biasa namun sulit untuk dibangun jika dibendung dengan kenaifan.

     Selesai makan, mereka membayar tagihan serta beranjak dari tempat duduk, dengan perut yang sudah terisi penuh dan jalan yang sedikit melambat bagaikan orang yang jompo. Mereka mengambil sepeda motornya diparkiran lalu memacunya kembali memecah keramaian kota. Kembali pulang kerumah sembari mengingat dalam diri mereka,  inilah indahnya pertemanan, tanpa ada kata kebohongan.

    




Share:

Saturday, May 27, 2017

2016

Bulan ramadhan telah tiba, aku tengah berada di awal bulan yang penuh berkah ini. Suara diberbagai surau dan mesjid terdengar merdu sebagai peneman harian di bulan yang penuh berkah ini. Malam hari yang penuh dengan kehidupan, pagi dan siang hari yang kian sepi dari lalu-lalang, sore hari yang penuh warna akan para penjaja takjil bukaan puasa. Suasana yang selalu dirindukan oleh setiap insan yang hatinya merasakan nuansanya bulan berkah ini.

Selalu akan ada kenangan manis dari setiap orang yang dilewatinya dalam ramadhan. Dari tahun ke tahun, kenangan itu akan selalu bertambah, sehingga nian melukiskan perasaan manis didalam hati mereka. Baik bersama keluarga, sahabat, atau orang-orang yang dicintainya. Kenangan manis yang mungkin masih bisa diulang lagi pada ramadhan kali ini, atau bahkan ada yang tidak bisa mengulanngnya karena kekurangan suatu hal. Suatu hal tersebut bisa apa saja, diri sendiri pasti sadari apa sesuatu tersebut.

Akupun punya sebuah cerita dalam bulan ramadhan tahun lalu. Sebuah kenangan yang pastinya tidak akan aku lupakan dengan mudah. Cerita yang menjadi penyadar diriku akan betapa harusnya aku menjadi seorang yang tegar, menjadi seorang yang memiliki pendirian tetap, dan sebuah cerita yang kuanggap menjadi langkah awal masa depanku karena keputusan besar yang kuambil.

Disaat itulah aku merasakan bagaimana rasanya menjadi anak perantauan sesaat hahaha. Ya memang karena aku tidak pernah lepas dari jauh dari pengawasan orang tua ku walau diusiaku yang sekarang. Disaat itulah aku merasakan yang namanya “berjuang” walau hanya bagian kecil baru yang aku rasakan.

Telah banyak pula yang dikorbankan oleh orangtuaku ketika itu. Memang segala nikmat datangnya adalah dari Allah yang maha Kaya. Tapi waktu itu adalah mungkin pengorbanan yang paling berani seingatku oleh orangtua ku terhadapku, anak satu-satunya. Apa alasan mereka sampai sebegitunya terhadapku ? yang harus ku ingat, bahkan sampai kapanpun, itu semua karena rasa sayang mereka terhadapku, sayang yang tidak akan tergambarkan bahkan walau air laut didunia menjadi tintanya, rasa sayang yang bahkan ketika berdoa untuk mereka sendiri pun mereka hiraukan demi melebihkannya untuk ku.

Walau akhirnya Allah subhanahu wata’ala berkehendak lain. Bayangan indah yang hingga sempat terucap itu tidak menjadi suatu yang realistis. Angan-angan kedua orangtuaku yang tiba-tiba pupus dalam satu malam. Hatiku yang kalut dan kelabu karena mengetahui aku tidak bisa menyegerakan angan-angan dan melihat orangtuaku dalam kesedihan. Harapan yang seakan didepan mata akan dicapai. Langkah terakir yang kukira akan kulewati dengan mudah justru menjadi pukulan keras bagiku.

Aku tahu ketika itu orangtua ku sangat bersedih akan kegagalan yang aku derita, mereka mencoba menutupi kesedihannya dengan senyuman manis nan teduh yang mereka keluarkan ketika memberi nasehat dan bertatap mata dengan ku, sembari berkata “sudahlah nak, ini sudah resiko, ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagimu, masih banyak jalan lain yang bisa kamu ambil, Allah pasti memberikan yang baik bagimu dimasanya nanti”. Aku tahu betapa kelabunya langit pada malam itu, dengan tegar aku membalas kuatnya hati mereka dengan keikhlasan.

Memang begitulah hidup yang seharusnya, tidak akan selalu berakhir bak cerita drama korea yang penuh pengabul akan harap, tidak akan selalu seperti drama-drama FTV yang mengakirinya dengan suatu yang menyenangkan. Sadarlah yang disuguhkan kepada kita selama ini karena hanyalah sebagai pemuas keinginan dan hati para penontonya.

Begitu indah skenario Allah kepadaku. Telah begitu banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan. Tidak ada cara lain untuk memutar balik kembali waktu dan keadaan yang telah berlalu. Satu-satunya cara ialah mencoba untuk “ikhlas”. Dunia adalah tempat dimana dirimu sejatinya mencari tau siapakah dan untuk apa kau hidup. Takdir yang Allah tentukan pastilah yang terbaik bagi hamba-hambanya.

Sabarlah hati, yakinlah pada Sang Khalik. Yakinlah pada takdir Allah pasti selalu yang tebaik bagi kita, yakinlah Allah subhanahu wata’ala telah mempersiapkan masa depan yang cerah bagi kita yang selau berjalan dalam koridor syari’atnya. Bagaikan seorang yang yakin terhadap dokter yang menolongnya untuk sembuh, bagai yakinnya seorang penumpang terhadap pilot pesawatnya yang akan mengantarkannya ketempat yang ia tuju sekalipun ia tidak mengenali pilot pesawat tersebut.Yakin dan sandarkan lah diri kita kepada Allah yang segalanya ada dalam “genggaman”-Nya, melebihi yakin kita kepada mahkluk.

Cerita hebat yang pernah aku lalui ini akan selalu menjadi pengisi didalam ruang ingatanku dan menjadi pengalamanku yang berharga. Pada waktu yang sama, bulan ramadhan yang penuh berkah ini, akan menjadi pengingatku. Akan selalu menjadi kenangan betapa dalam hidup harus berjuang, menjadi pukulan kesadaran bahwa tidak ada yang namanya kata “putus asa”, betapa harusnya aku keluar dari yang namanya zona nyaman, dan menjadi penyadar betapa kasih sayang kedua orangtua ku kepada anaknya, begitu besar.

Share:

Friday, April 21, 2017

Proses




Lama sudah aku enggak update tulisan di blog ini, hampir sekitar 2 bulan sepertinya. Hehe ya biasalah seperti para blogger, ketika rasa bosan melanda, lalu enggak tau topik bahasan apa yang mau di tulis, jumpa topik bahasan tapi ketika mau mulai ngetiknya malah udah surut semangatnya. Apa lagi buat pemula seperti aku yang hanya ngeblog untuk sekedar iseng-iseng untuk melepas unek-unek dan stress.

Sebenarnya beberapa hari dan minggu kebelakang telah banyak moment yang telah aku jalani, bingung mau nulis yang mana dulu, kebanyakan bingungnya ya hehe.

Oke mari aku ringkas aja dari semua yang telah aku alami. Dari semua moment yang telah terjadi beberapa waktu kebelakang ini aku menemukan satu kesimpulan, yaitu, aku harus lebih dewasa dan berfikir dewasa.

Kenapa itu kesimpulannya ?. Ya, jawaban dari semua yang telah aku alami ialah aku harus lebih dewasa, dan sebagai mahasiswa aku harus lebih berfikir intelektual.

Telah banyak kisah sukses yang kulihat. Mulai dari para tokoh-tokoh hebat, hingga teman-teman masa kecil ku yang mulai memunculkan namanya walau perlahan.

Yang kusadari adalah, aku mempunyai cita-cita yang besar, namun usaha ku masih terlalu dan teramat kecil.

Memang iya sih, ada yang mengatakan bahwasanya kamu sebagai pribadi tidak boleh membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain. Tapi kalau kita ngebanding-bandinginnya dengan hal yang positif yang orang lain buat, lalu kita juga ingin buat seperti orang itu bahkan lebih, tentunya dengan cara dan jalan kita sendiri, kan enggak ada salahnya. Bahkan bagus, membuat si malas menjadi bergerak, dan membuat si tak peka menjadi peduli akan sekitarnya.

Oke balik lagi, sebelumnya aku sudah mengatakan usahaku masih dibilang minim. Aku tak harus menyalahkan siapa-siapa. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan banyak rahmat serta rezkinya padaku. Semua fasilitas tersedia.

Beberapa waktu kebelakang aku sempat membaca sebuah buku yang menceritakan tentang kisah hidup seseorang yang tinggal di daerah kawasan perang, hingga ia meraih sukses walau didalam keadaan yang bisa dibilang aku saja mungkin tak sanggup mengalaminya.

Semakin “kesini” aku makin sadar bahwa, ada banyak sekali tipe, sifat, dan tingkah pola manusia. Hingga menyadarkan aku, bahwa aku masih terlalu lugu akan dunia, aku hanya berputar-putar di situ-situ saja, hingga aku belum dapat memahami bagaimana dunia sebenarnya.

Kesadaran-kesadaran ini yang membuatku tersadar bahwasanya aku tak bisa begini-gini terus, aku harus lebih peka, aku harus lebihkan usaha ku, tekad ku, ibadah ku, do’a ku pada Allah Azza wa Jalla.

Ya namanya manusia, proses itu hal yang pasti. Setiap orang berproses, setiap orang tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik tentunya dengan proses dan banyak liku penyadaran yang ia alami di dalam kehidupannya.

Bukankah bunga-bunga yang kau lihat indah sudah mengalami banyak proses sebelum pandanganmu terpaku akan indahnya ?


Indah mu akan tampak ketika kau dekatkan diri pada sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.





Share:

Tuesday, February 7, 2017

Anak Negeri


Libur telah usai dan waktu kuliah telah tiba, kembali ke rutinitas biasa yang penuh dengan warna dan lika-liku, ya kalau boleh dibiakan sih begitu heheh. Hari ini tepatnya hari kedua aku sudah masuk kuliah, tanggal 7 Februari 2017. Tepat dihari ini juga kebetulan aku dan bersama 4 temanku yang lain untuk masuk ke kelas atau yang biasa anak kuliah sebut unit lain. Pada semester ini aku dan beberapa temanku akhirnya memutuskan untuk masuk ke unit lain dalam beberapa mata kuliah. Dari keseluruhan mata kuliah, kami memilih 4 mata kuliah untuk kami masuki di unit lain, yaitu unit A. Jadwal untuk kami masuk ke unit lain adalah di hari selasa dan kamis. Hari ini tepat hari selasa dan kami masuk ke unit A.

Sebelum hari ini tiba aku bahkan sudah membayang kan dari hari sebelumnya. ”Bagaimanna nanti jika aku sudah memasuki unit A ?” “Bagaimanakah orang-orang yang ada di dalam unit A ?” “Apakah welcome  kepada orang baru ?” “Apakah aku akan terbiasa dan mampu untuk menggerakkan tubuhku yang biasanya identik dengan gerakan slow motion dipagi hari ?” hahaha ya karena di semester ini jadwal ku berkuliah masuk dipagi hari. Dan karena pun selama ini aku sudah terbiasa kuliah pada siang hari, jadinya pagi hari menjadi waktu kembali sulit bagiku. Memang sih dari kecil sampai SMA aku masuk sekolah itu pagi, tapi ya namanya kebiasaan selama kuliah, kebiasaan yang tidak bagus tentunya hahaha.

Setibanya aku dikampus, aku langsung naik ke lantai 3 pada gedung kampus ku, untuk memeriksa dimanakan kelas unit A itu berada. Pada saat itu, ramai anak-anak lain namun baru aku sendiri diantara teman-temanku yang datang kekampus. Setelah memeriksa akhirnya jumpalah kelas yang bakal menjadi dunia baru dalam penggalian ilmu ku. Selang beberapa menit teman-temanku yang ikut mengambil kelas di unit A pun datang, mereka mengambil tempat di sudut area kampus untuk bercengkrama sejenak, akupun berlalu meninggalkan mereka untuk pergi ke depan pintu kelas dari unit A untuk menyapa teman-teman baru di unit A tersebut, ya salah satunya ada yang sudah kukenal.

Lalu muncul seorang anak, ya pastinya penghuni pribumi dari unit A baru datang dengan lagaknya, mengatakan “Waduhh.. dijajah kelas kita ini..! kok banyak kali anak luar yang masuk, gara-gara kalian aku gak kesempetan milih unit A karna kuotanya habis, udah keluar aja sana kalian, kok dijajah gini kelas kita ini !”. Lalu aku berfikir betapa anehnya perkataannya tersebut. Lalu dia berbicara kepadaku, “Kau ya yang ambil mata kuliah di A ?”, “Iya, memang kenapa ?” aku menjawab. “Udah keluar aja sana, kalau enggak tukar namamu dengan namaku di kelas ini”, aku langsung menjawab “Terserah aku mau ngambil kuliah dikelas mana pun, itu hak aku, itu salah kau sendiri terlambat ngisi KRS, kalau mau masuk ke kelas ini sana lapor ke TU, minta di bukakan kuota untuk kelas ini”. Mungkin dia mengira aku ini semester dibawahnya yang mengambil bonus SKS apabila mendapat IP bagus di kelasnya. Dia bertanya lagi “semester berapa kau ?”, “semester 6” ku jawab lantang. Langsung dia terdiam lalu mengalihkkan pembicaraan. Merememehkan oranng lain karena ia kira orang tersebut berada dibawahnya posisinya, itu salah bung.

Setelah aku teliti lagi, ternyata anak yang berlagak tadi memang anak yang yahh susah lah dibilanginnya. Setelah dosen masuk ia baru masuk, terlambat dengan santainya masuk ke kelas. Sampai dikelas bukan memperhatikan dengan seksama dan diam, malah ternyata dari mulutnya banyak sekali keluar kata kata yang tidak berguna, nyantel kalau dosen sedang menjelaskan. Mungkin di anggapnya lucu, tapi melahan buat kesal. Lalu experience di unit A ini belum berhenti. Salah satu teman ku yang ikut pindah ke unit A ini orangnya aktif, kuanggap sangat aktif karena berbeda dengan orang lain. Pertanyaan yang timbul dari kepalanya ada saja, tentunya ini baik. Karena bahkan yang tidak aku ketahui ia mengetahuinya, bukankah dengan setiap pertanyaan yang dilemparkan seseorang, dan jawaban dari pertanyaannya akan menjadi tambahan ilmu bagi kita ? Realita yang ku dapatkan di unit baru ini justru berbeda. Setelah salah satu temanku ini melemparkan banyak pertanyaan kepada dosen, mereka mulai “yahh.. halahh..” seakan pertanyaan tersebut tidak berguna, dan karena hanya temanku tersebut yang terus bertanya. Dosennya saja dengan senang hati menjawab pertanyaan, bahkan memang disediakan waktu untuk bertanya.

Memang pada realitanya aku juga bukan orang yang bagus-bagus amat, tidak terlalu aktif dan juga tidaklah terlalu cerdas. Aku akui itu. Namun aku tahu bagaimana menjaga sikap, bagaimana menghormati pendapat orang lain, dan berusaha menjadi pendengar yang baik.

Malamnya, setelah hari yang baru di kelas baru tersebut, sejenak difikiranku tersirat, “Apakah aku harus menghabiskan satu semeterku dengan suasana begitu terus ? tidak sepertinya”, jawabku dalam hati. Ditambah lagi karena, sepertinya aku seorang yang Introvert.
Share:

Tuesday, January 31, 2017

Pra Semester

Hari libur telah tiba, bertepatan pada bulan januari 2017 kami para mahasiswa di perguruan tinggi telah menyelesaikan ujian final/UAS (Ujian Akhir Semester). Libur bagi ku yang sekarang terasa biasa saja, entah mengapa atmosfer yang namanya libur itu tidak terasa begitu wah bagiku, entah mungkin karena aku tidak pergi kemana-mana untuk menikmati waktu liburku yang berharga, entah juga karena waktu liburnya singkat hehe.

Libur kali ini adalah libur kenaikan semester, ya, kenaikan semester ku yang ke-6. Di semester ini setiap anak pada fakultas ku diharuskan memilih satu jurusan konsentrasi sesuai dengan bakat minat yang ia miliki, kebetulan aku berkuliah di jurusan hukum. Pada jurusan hukum di universitas ku terdapat 3 jurusan yang disediakan untuk kami pilih, yaitu Pidana, Perdata, & HTN.

Diharuskannya dalam memilih mata kuliah pilihan ini sempat membuat ku bingung, dari 3 jurusan konsentrasi yang ditawarkan, 2 diantaranya menurutku aku mampu menguasainya, yaitu Perdata & HTN. Kalau pidana sih rasanya aku tidak terlalu berbakat hehe. Ditambah lagi kami para mahasiswa harus mengambil setiap mata kuliah wajib yang telah disuguhkan.

Belum lagi pada semester ini aku menjumpai seorang dosen yang terkenal killernya dalam mengajar, memang pada kelas ku si dosen ini belum pernah masuk untuk mengajar sih, tapi dari dosen-dosen lain dan dari kakak semester yang pernah diajar olehnya, mengatakan bahwa memang dosen satu ini mengerikan. Pada satu moment aku pernah bepapasan dengan si dosen yang terkenal killernya ini, dan benar saja, orangnya kaku dan jarang jarang jarang sekali terlihat senyum diwajahnya hahaha.

Namun kupikir ah sudahlah, tentunya ini tantangan baru bagi ku, tidak usah banyak berfikir negatif, pastinya dosen tersebut begitu karena memang sudah sifatnya, dan beliau mungkin dalam mengajar lebih tepatnya bukan killer, tetapi itulah ketegasannya dalam mengajar yang beliau terapkan pada setiap mahasiswanya. Pastinya seorang pengajar bertujuan untuk memberikan ilmu yang baik bukan ? apalagi kami berkuliah pada jurusan yang terbilang haruslah orang-orang tegar yang berada didalamnya, maka haruslah kami ditempa agar menjadi praktisi hukum yang baik dan hebat.

Tetapi dari salah satu teman ku ada yang mengusulkan untuk memilih dosen lain pada mata kuliah tersebut, maksudnya kami masuk ke unit lain pada mata kuliah yang sama, yang penting yang masuk mengajar bukan si dosen yang katanya killer ini. Menurutku ini justru akan merepotkan. Bukannya kita tidak tahu orang itu bagaimana kalau belum kita bertemu atau berjumpa dengannya, mungkin saja sidosen ini malah dalam metode pengajarannya enak, sehingga buat para mahasiswa mudah menangkap pelajaran yang diajarkan. Tapi kalau diingat-ingat wajahnya sih, memang serem haha.

Pada akhirnya aku hanya memasrahkan ini semua pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada suatu ketentuan dalam hidupku, bahkan sampai sedetil-detilnya yang luput dari kehendak-Nya. Dengan bertakwa, berdoa, dan terus berusaha, aku yakin bahwa dimanapun, dan dengan siapapun, Allah pasti memberikan yang baik kepadaku dan mengatur yang terbaik untuk masa depan ku yang super. Dengan ketentuan dan syarat yang berlaku tentunya, seperti kata ustad Yusuf Mansur hehe.
Share:

Saturday, January 21, 2017

It's Begin


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Alhamdulillah akhirnya blog sederhana ini terbentuk, dan ini adalah salam pembuka sekaligus artikel perdana yang saya buat. Saya berharap kelak nantinya blog ini akan berkembang dan menghasilkan banyak hal yang bermanfaat.
 
Saya tergerak untuk membuat blog, karena timbul pertanyaan dalam hati saya, apa yang saya harus lakukan untuk mengembangkan kreativitas dari diri saya ? Apa langkah awal yang harus saya mulai ? Lalu saya terfikir ntuk membuat sebuah blog sebagai media saya menulis, menulis apa saja yang ingin saya tulis, setidaknya saya dapat mengekspresikan isi kepala saya dengan tulisan, walaupun enggak bagus-bagus amat.

Mohon maaf jika bahasa dari penulisan masih tidak bagus, namanya manusia pasti tidak luput dari kesalahan dan saya akan terus belajar.

Keep learning, Never give up.
 Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh



Share: