"Hoi somplak ! Udaah kau tenang aja, hari ini aku traktir, aku ada
rejeki ini dikit" Begitulah kerap kali miun memanggil junet teman akrabnya
dengan panggilan yang aneh-aneh namun itulah tanda keakraban mereka.
Junet dan miun, mereka sudah berteman
sejak mereka duduk dikelas 7, SMP Negeri Sehati di kota Bandung, dan sekarang
mereka telah duduk dibangku kuliah pada universitas dan jurusan yang sama pula.
Miun orang yang ceria, cerdik dan juga tidak jaim dalam keadaan apapun, dia
dikenal orang yang mudah berekspresi dalam kalangan kawan kaean sekitarnya,
berbeda terbalik dengan junet, orangnya pendiam dan tertutup, bisa dibilang
miunlah yang selalu mendorongnya untuk lebih bisa mengatakan isi hatinya dan
berekspresi. Mereka berdua seperti teman yang saling melengkapi satu sama lain.
Hari ini miun sedang senang, ia baru saja mendapat uang upah hasil ia
bekerja sampingan di toko koh Acong yang berjualan sembako. Toko koh Acong
terkenal ramai dengan Pembelli karena keramahan si pemilik toko tersebut dan
kemurahan hatinya dalam memberikan potongan harga kepada setiap orang yang
pergi berbelanja ke tokonya.
"Yuk kita muter-muter kota, kita cari atam penyet cabe ijo, eh
kebetulan yang disana itu enak loh, ah aku tau tempatnya" ucap miun dengan
penuh semangat dihadapan junet.
"Yauda okey.., tapi beneran niih kau traktir. Itu upah dari hasil
kerja kau loh. Jadi enggak enak nih aku un” junet menanggapi dengan senyum
lebar.
“ah
kau santai aja kali net, kayak baru kenal aku kemaren sore aja. Palingan kita
makan berdua Cuma abis berapa, sekali-kali pun makan enak, biar badan mu itu
ada asupan gizinya dikit, jangan makan ikan asin sama sambel belacan doing tiap
hari hahahaha” kelakar miun dengan wajah sedikit meledek.
“kampret
kau un” balasan ejekan pasrah dari junet.
Miun memang teman yang baik, ia juga tidak pelit ketika ada kelebihan
rezeki, untuk mentraktir teman-temannya. Terkadang bahkan, ada suatu ketika
miun membeli es lilin kios di pinggir jalan, ia tidak hanya membeli untuk
dirinya sendiri, tetapi ia membelinya lebih, sampai satu kantong plastik
kresek, dengan tujuan agar sampai disekolah ketika teman teman melihatnya
sedang menyeruput es lilin yang ditangannya dan lalu ada yang meminta, ia bisa
membagi baginya keteman satu kelas yg lain, hingga tidak hanya dia yang
menikmati kesegaran es lilin tersebut.
"Net, kau maunya makan apa ?" miun bertanya sembari memacu
sepeda motor yg kami kendarai.
" kalau aku sih kayanya bakso, nih 'un" junet menjawab asal
sembari mengerutkan dahi pura-pura berfikir.
"yauda ayo kita cari bakso aja, tapi aku pingin makan yang ada
nasinya niih" balas miun dengan sedikit berteriak karna rusuhnya jalanan.
"yauda kalo gitu, coba kita singgah kewarung bakso yang dijalan
sentosa itu, kayanya ada nasinya deh" miun memeberi saran.
Singgah lah mereka berdua ke warung
yang ada dipinggir jalan, yang pelanggannya kelihatan ramai. Turunlah
junet dari boncengan sepeda motor miun dengan maksud bertanya kepada abang
penjual bakso, apakah bisa makan bakso disitu dengan tambahan nasi. Karna
memang bakso memang terdengar tidak mainstream jika dijadikan teman santapan
bersama nasi putih.
"Bang disini ada nasinya gak ? Kami mau makan baksonya dengan nasi
bang ! Bisa ?" junet bertanya sambil mengelap keringat didahinya karena
sinar matahari pada hari itu memang cukup terik.
"Ooh bisa bisa dik, bisa.." dengan singkatnya abang penjual
memberikan jawaban.
" un sini, bisa nih ! Ada nasinya" dari kejauhan junet sambil
melambai-lambaikan tangannya.
Mata mereka pun melirik kesana kemari untuk mencari posisi yang oaling
apik untuk mereka duduki, karena ramainya pengunjung warung pada saat itu,
mereka sempat bingung mendapati meja kosong. Akhirnya pencarian meja yang
kosong mereka dapati, tepat di tengah agak kedepan, posisi strategis bagi
mereka karena dekat dengan mas mas si penjual bakso, hingga dengan mudah mereka
dapat memesan.
Dengan menyenderkan tubuh mereka kekursi sembari melepaskan penat selama
diperjalanan, mereka tiba-tiba didatangi oleh seorang pelayan bisa dibilang,
seorang pelayan yang bekerja di warung tersebut.
"Menunya bang ?" miun meminta menu sebagai formalitas.
"Bang, kalo gitu teman saya pesen bakso biasa, nah saya pesen bakso pakai
nasi ya" sambungnya.
"Wah kalau denga nasi tidak ada dek, tukang masinya belum ada
tuh" si abang pelayan memeberikan keterangan yang sontak membuat kami
heran.
"Loh, tapi tadi itu mas mas yang depan bilang bisa dengan nasi !?
Gmna sih mas" miun sampai dengan mengerut ngerutkan dahi.
"Iya dek, tapi memang tidak ada nasinya, enggak bisa pake nasi
dek" abang pelayan dengan sabar menjawab.
"Yah jadi gmna dong, kami udah duduk niih, masa harus keluar lagi
!? enggak enak banget dong" miun mulai berkata dengan nada kurang enak
didengar.
"Sudah sudah, kalau tidak ada ayo kita keluar saja, enggak aoa apa
kok un, ayo kita keliling lagi" junet dengan seketika langsung melerai
perdebatan kecil mereka.
Junet tau, sahabatnya miun memang berwatak keras kepala juga, dia akan
teguh pada pendiriannya sampai ia mendapatkan apa yang ia mau, begitulah junet
mengenal temannya miun sejak lama, tapi dibalik itu semua, semua sifat baiknya
jauh lebih banyak dibandingnya sedikit sifat buruknya, dan junet akan selalu
mengingatkan sahabatnya miun jika didapatinya keras kepala sahabatnya ini tiba2
muncul.
"Hufft.. Yaudadeh kalo begitu, maaf ya bang, kami cari tempat lain
aja, makasih bang.." akhirnya miun mengalah dan junet berhasil meredam
keras kepala miun.
Mereka bangkit dan pergi beranjak dari tempat duduk yang padahal sudah
susah mereka dapati. Menuju keparkiran, mengambil sepeda motor mereka dan
langsung memacunya dengan kecepatan sedang. Mendapati sinar matahari yang cukup
terik, membalut tubuh mereka hingga terasa panasnya sampai tenggorokan, dahaga
suatu yang tak terelakkan lagi bagi mereka.
"Tapi kan kau kepinginnyaa bakso, gimana nih, kita cari kemana lagi
? Disekitar sini jarang ada yang jualan bakso net" miun berbicara memecah
lamunan junet yang lalaian melihat keramaian jalanan.
"ooh itu.. Gak masalah kok un, aku pun tadi cuma ngasal sebut
hahaha, gak kepingin kepingin banget kok. Lagian tadi kan kau katanya kepingin
makan ayam penyet, kenapa kita enggak cari itu aja ?” junet memberi saran.
“iya sih aku
tadinnya kepingin makan itu, tapi karna kamu katanya kepingin makan bakso
makanya aku bersikeras cari bakso aja. Yauda deh, ayo kita ke ayam penyet cabe
ijo di daerah situ” dengan senang hati miun nenaggapi sarannya junet.
“ooh jadi ternyata temanku ini dari tadi demi
memenuhi yang dikiranya seleraku tadi
bakso makanya ia menurutinya. Wah sampai sedetail itu ia peduli dengan orang
lain, bahkan sampai ke urusan makanan. Sugguh teman yang sangat baik kau miun,
yah walaupun tingkah mu slengek’an hehehe” dalang lamunan junet berbisik
dari dalam hatinya.
Begitulah
miun yang selama ini dikenal banyak orang, keluarga, serta teman-teman
sekitarnya. Ia adalah orang yang lebih dahulu memikirkan orang lain ketimbang
dirinya sendiri. Ia tak segan dalam hal membantu orang lain.
“heh somplak
kenapa diem aja !? kesambet yak ? apa jangan-jangan kau lagi mikir yang ngeres
gara-gara banyak liat cewek cantik dijalanan ini !? hahaha” kelakar miun
memecah lamunan junet.
“kampret kau
un, mana mungkin anak tampan berwajah lugu macam aku ini berfikiran begitu”
junet menyahut spontan dengan nyeleneh.
Mereka memacu kendaraan mereka ditengah
padatnya jalanan kota, hingga sampailah mereka di teras palantaran rumah makan
yang bertemakan cat dinding hijau, dan dihiasi bangku-bangku serta meja kayu
yang tingginya sedang hingga nyaman untuk diduduki. Mereka dapati bangku kosong
tepat di bagian depan dari warung makan tersebut. Tidak susah-susah untuk
mencari bangku seperti di tempat warung bakso yang sempat membuat mereka kecewa
tadi.
Akhirnya apa
yang mereka cari mereka dapati. Sepenggal kisah pertemanan biasa namun renyah
antara mereka karena dibumbui akan kepedulian, dan saling melengkapi antar
persahabatan. Persahabatan yang mungkin terlihat biasa namun sulit untuk
dibangun jika dibendung dengan kenaifan.
Selesai
makan, mereka membayar tagihan serta beranjak dari tempat duduk, dengan perut
yang sudah terisi penuh dan jalan yang sedikit melambat bagaikan orang yang
jompo. Mereka mengambil sepeda motornya diparkiran lalu memacunya kembali
memecah keramaian kota. Kembali pulang kerumah sembari mengingat dalam diri
mereka, inilah indahnya pertemanan, tanpa
ada kata kebohongan.
0 comments:
Post a Comment