Thursday, June 29, 2017

Traktiran

     "Hoi somplak ! Udaah kau tenang aja, hari ini aku traktir, aku ada rejeki ini dikit" Begitulah kerap kali miun memanggil junet teman akrabnya dengan panggilan yang aneh-aneh namun itulah tanda keakraban mereka.

     Junet dan miun, mereka sudah berteman sejak mereka duduk dikelas 7, SMP Negeri Sehati di kota Bandung, dan sekarang mereka telah duduk dibangku kuliah pada universitas dan jurusan yang sama pula. Miun orang yang ceria, cerdik dan juga tidak jaim dalam keadaan apapun, dia dikenal orang yang mudah berekspresi dalam kalangan kawan kaean sekitarnya, berbeda terbalik dengan junet, orangnya pendiam dan tertutup, bisa dibilang miunlah yang selalu mendorongnya untuk lebih bisa mengatakan isi hatinya dan berekspresi. Mereka berdua seperti teman yang saling melengkapi satu sama lain.

    Hari ini miun sedang senang, ia baru saja mendapat uang upah hasil ia bekerja sampingan di toko koh Acong yang berjualan sembako. Toko koh Acong terkenal ramai dengan Pembelli karena keramahan si pemilik toko tersebut dan kemurahan hatinya dalam memberikan potongan harga kepada setiap orang yang pergi berbelanja ke tokonya.

    "Yuk kita muter-muter kota, kita cari atam penyet cabe ijo, eh kebetulan yang disana itu enak loh, ah aku tau tempatnya" ucap miun dengan penuh semangat dihadapan junet.

    "Yauda okey.., tapi beneran niih kau traktir. Itu upah dari hasil kerja kau loh. Jadi enggak enak nih aku un” junet menanggapi dengan senyum lebar.

    “ah kau santai aja kali net, kayak baru kenal aku kemaren sore aja. Palingan kita makan berdua Cuma abis berapa, sekali-kali pun makan enak, biar badan mu itu ada asupan gizinya dikit, jangan makan ikan asin sama sambel belacan doing tiap hari hahahaha” kelakar miun dengan wajah sedikit meledek.

  “kampret kau un” balasan ejekan pasrah dari junet.

    Miun memang teman yang baik, ia juga tidak pelit ketika ada kelebihan rezeki, untuk mentraktir teman-temannya. Terkadang bahkan, ada suatu ketika miun membeli es lilin kios di pinggir jalan, ia tidak hanya membeli untuk dirinya sendiri, tetapi ia membelinya lebih, sampai satu kantong plastik kresek, dengan tujuan agar sampai disekolah ketika teman teman melihatnya sedang menyeruput es lilin yang ditangannya dan lalu ada yang meminta, ia bisa membagi baginya keteman satu kelas yg lain, hingga tidak hanya dia yang menikmati kesegaran es lilin tersebut.

    "Net, kau maunya makan apa ?" miun bertanya sembari memacu sepeda motor yg kami kendarai.

    " kalau aku sih kayanya bakso, nih 'un" junet menjawab asal sembari mengerutkan dahi pura-pura berfikir.

    "yauda ayo kita cari bakso aja, tapi aku pingin makan yang ada nasinya niih" balas miun dengan sedikit berteriak karna rusuhnya jalanan.

    "yauda kalo gitu, coba kita singgah kewarung bakso yang dijalan sentosa itu, kayanya ada nasinya deh" miun memeberi saran.

    Singgah lah mereka berdua ke warung   yang ada dipinggir jalan, yang pelanggannya kelihatan ramai. Turunlah junet dari boncengan sepeda motor miun dengan maksud bertanya kepada abang penjual bakso, apakah bisa makan bakso disitu dengan tambahan nasi. Karna memang bakso memang terdengar tidak mainstream jika dijadikan teman santapan bersama nasi putih.

    "Bang disini ada nasinya gak ? Kami mau makan baksonya dengan nasi bang ! Bisa ?" junet bertanya sambil mengelap keringat didahinya karena sinar matahari pada hari itu memang cukup terik.

    "Ooh bisa bisa dik, bisa.." dengan singkatnya abang penjual memberikan jawaban.

    " un sini, bisa nih ! Ada nasinya" dari kejauhan junet sambil melambai-lambaikan tangannya.

    Mata mereka pun melirik kesana kemari untuk mencari posisi yang oaling apik untuk mereka duduki, karena ramainya pengunjung warung pada saat itu, mereka sempat bingung mendapati meja kosong. Akhirnya pencarian meja yang kosong mereka dapati, tepat di tengah agak kedepan, posisi strategis bagi mereka karena dekat dengan mas mas si penjual bakso, hingga dengan mudah mereka dapat memesan.

    Dengan menyenderkan tubuh mereka kekursi sembari melepaskan penat selama diperjalanan, mereka tiba-tiba didatangi oleh seorang pelayan bisa dibilang, seorang pelayan yang bekerja di warung tersebut.

    "Menunya bang ?" miun meminta menu sebagai formalitas. "Bang, kalo gitu teman saya pesen bakso biasa, nah saya pesen bakso pakai nasi ya" sambungnya.

    "Wah kalau denga nasi tidak ada dek, tukang masinya belum ada tuh" si abang pelayan memeberikan keterangan yang sontak membuat kami heran.

    "Loh, tapi tadi itu mas mas yang depan bilang bisa dengan nasi !? Gmna sih mas" miun sampai dengan mengerut ngerutkan dahi.

    "Iya dek, tapi memang tidak ada nasinya, enggak bisa pake nasi dek" abang pelayan dengan sabar menjawab.

    "Yah jadi gmna dong, kami udah duduk niih, masa harus keluar lagi !? enggak enak banget dong" miun mulai berkata dengan nada kurang enak didengar.

    "Sudah sudah, kalau tidak ada ayo kita keluar saja, enggak aoa apa kok un, ayo kita keliling lagi" junet dengan seketika langsung melerai perdebatan kecil mereka.

    Junet tau, sahabatnya miun memang berwatak keras kepala juga, dia akan teguh pada pendiriannya sampai ia mendapatkan apa yang ia mau, begitulah junet mengenal temannya miun sejak lama, tapi dibalik itu semua, semua sifat baiknya jauh lebih banyak dibandingnya sedikit sifat buruknya, dan junet akan selalu mengingatkan sahabatnya miun jika didapatinya keras kepala sahabatnya ini tiba2 muncul.

    "Hufft.. Yaudadeh kalo begitu, maaf ya bang, kami cari tempat lain aja, makasih bang.." akhirnya miun mengalah dan junet berhasil meredam keras kepala miun.

    Mereka bangkit dan pergi beranjak dari tempat duduk yang padahal sudah susah mereka dapati. Menuju keparkiran, mengambil sepeda motor mereka dan langsung memacunya dengan kecepatan sedang. Mendapati sinar matahari yang cukup terik, membalut tubuh mereka hingga terasa panasnya sampai tenggorokan, dahaga suatu yang tak terelakkan lagi bagi mereka.

    "Tapi kan kau kepinginnyaa bakso, gimana nih, kita cari kemana lagi ? Disekitar sini jarang ada yang jualan bakso net" miun berbicara memecah lamunan junet yang lalaian melihat keramaian jalanan.

    "ooh itu.. Gak masalah kok un, aku pun tadi cuma ngasal sebut hahaha, gak kepingin kepingin banget kok. Lagian tadi kan kau katanya kepingin makan ayam penyet, kenapa kita enggak cari itu aja ?” junet memberi saran.

   “iya sih aku tadinnya kepingin makan itu, tapi karna kamu katanya kepingin makan bakso makanya aku bersikeras cari bakso aja. Yauda deh, ayo kita ke ayam penyet cabe ijo di daerah situ” dengan senang hati miun nenaggapi sarannya junet.

    “ooh jadi ternyata temanku ini dari tadi demi memenuhi  yang dikiranya seleraku tadi bakso makanya ia menurutinya. Wah sampai sedetail itu ia peduli dengan orang lain, bahkan sampai ke urusan makanan. Sugguh teman yang sangat baik kau miun, yah walaupun tingkah mu slengek’an hehehe” dalang lamunan junet berbisik dari dalam hatinya.

   Begitulah miun yang selama ini dikenal banyak orang, keluarga, serta teman-teman sekitarnya. Ia adalah orang yang lebih dahulu memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Ia tak segan dalam hal membantu orang lain.

    “heh somplak kenapa diem aja !? kesambet yak ? apa jangan-jangan kau lagi mikir yang ngeres gara-gara banyak liat cewek cantik dijalanan ini !? hahaha” kelakar miun memecah lamunan junet.

    “kampret kau un, mana mungkin anak tampan berwajah lugu macam aku ini berfikiran begitu” junet menyahut spontan dengan nyeleneh.

     Mereka memacu kendaraan mereka ditengah padatnya jalanan kota, hingga sampailah mereka di teras palantaran rumah makan yang bertemakan cat dinding hijau, dan dihiasi bangku-bangku serta meja kayu yang tingginya sedang hingga nyaman untuk diduduki. Mereka dapati bangku kosong tepat di bagian depan dari warung makan tersebut. Tidak susah-susah untuk mencari bangku seperti di tempat warung bakso yang sempat membuat mereka kecewa tadi.

    Akhirnya apa yang mereka cari mereka dapati. Sepenggal kisah pertemanan biasa namun renyah antara mereka karena dibumbui akan kepedulian, dan saling melengkapi antar persahabatan. Persahabatan yang mungkin terlihat biasa namun sulit untuk dibangun jika dibendung dengan kenaifan.

     Selesai makan, mereka membayar tagihan serta beranjak dari tempat duduk, dengan perut yang sudah terisi penuh dan jalan yang sedikit melambat bagaikan orang yang jompo. Mereka mengambil sepeda motornya diparkiran lalu memacunya kembali memecah keramaian kota. Kembali pulang kerumah sembari mengingat dalam diri mereka,  inilah indahnya pertemanan, tanpa ada kata kebohongan.

    




Share: