Bulan ramadhan telah
tiba, aku tengah berada di awal bulan yang penuh berkah ini. Suara diberbagai
surau dan mesjid terdengar merdu sebagai peneman harian di bulan yang penuh
berkah ini. Malam hari yang penuh dengan kehidupan, pagi dan siang hari yang
kian sepi dari lalu-lalang, sore hari yang penuh warna akan para penjaja takjil
bukaan puasa. Suasana yang selalu dirindukan oleh setiap insan yang hatinya
merasakan nuansanya bulan berkah ini.
Selalu akan ada
kenangan manis dari setiap orang yang dilewatinya dalam ramadhan. Dari tahun ke
tahun, kenangan itu akan selalu bertambah, sehingga nian melukiskan perasaan
manis didalam hati mereka. Baik bersama keluarga, sahabat, atau orang-orang
yang dicintainya. Kenangan manis yang mungkin masih bisa diulang lagi pada
ramadhan kali ini, atau bahkan ada yang tidak bisa mengulanngnya karena
kekurangan suatu hal. Suatu hal tersebut bisa apa saja, diri sendiri pasti
sadari apa sesuatu tersebut.
Akupun punya sebuah
cerita dalam bulan ramadhan tahun lalu. Sebuah kenangan yang pastinya tidak
akan aku lupakan dengan mudah. Cerita yang menjadi penyadar diriku akan betapa
harusnya aku menjadi seorang yang tegar, menjadi seorang yang memiliki
pendirian tetap, dan sebuah cerita yang kuanggap menjadi langkah awal masa depanku
karena keputusan besar yang kuambil.
Disaat itulah aku
merasakan bagaimana rasanya menjadi anak perantauan sesaat hahaha. Ya memang
karena aku tidak pernah lepas dari jauh dari pengawasan orang tua ku walau
diusiaku yang sekarang. Disaat itulah aku merasakan yang namanya “berjuang” walau hanya bagian kecil baru
yang aku rasakan.
Telah banyak pula yang
dikorbankan oleh orangtuaku ketika itu. Memang segala nikmat datangnya adalah
dari Allah yang maha Kaya. Tapi waktu itu adalah mungkin pengorbanan yang paling
berani seingatku oleh orangtua ku terhadapku, anak satu-satunya. Apa alasan
mereka sampai sebegitunya terhadapku ? yang harus ku ingat, bahkan sampai
kapanpun, itu semua karena rasa sayang mereka terhadapku, sayang yang tidak
akan tergambarkan bahkan walau air laut didunia menjadi tintanya, rasa sayang
yang bahkan ketika berdoa untuk mereka sendiri pun mereka hiraukan demi
melebihkannya untuk ku.
Walau akhirnya Allah
subhanahu wata’ala berkehendak lain. Bayangan indah yang hingga sempat terucap
itu tidak menjadi suatu yang realistis. Angan-angan kedua orangtuaku yang
tiba-tiba pupus dalam satu malam. Hatiku yang kalut dan kelabu karena
mengetahui aku tidak bisa menyegerakan angan-angan dan melihat orangtuaku dalam
kesedihan. Harapan yang seakan didepan mata akan dicapai. Langkah terakir yang
kukira akan kulewati dengan mudah justru menjadi pukulan keras bagiku.
Aku tahu ketika itu
orangtua ku sangat bersedih akan kegagalan yang aku derita, mereka mencoba
menutupi kesedihannya dengan senyuman manis nan teduh yang mereka keluarkan
ketika memberi nasehat dan bertatap mata dengan ku, sembari berkata “sudahlah nak, ini sudah resiko, ini akan
menjadi pengalaman yang berharga bagimu, masih banyak jalan lain yang bisa kamu
ambil, Allah pasti memberikan yang baik bagimu dimasanya nanti”. Aku tahu
betapa kelabunya langit pada malam itu, dengan tegar aku membalas kuatnya hati
mereka dengan keikhlasan.
Memang begitulah hidup
yang seharusnya, tidak akan selalu berakhir bak cerita drama korea yang penuh
pengabul akan harap, tidak akan selalu seperti drama-drama FTV yang
mengakirinya dengan suatu yang menyenangkan. Sadarlah yang disuguhkan kepada
kita selama ini karena hanyalah sebagai pemuas keinginan dan hati para
penontonya.
Begitu indah skenario
Allah kepadaku. Telah begitu banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan. Tidak
ada cara lain untuk memutar balik kembali waktu dan keadaan yang telah berlalu.
Satu-satunya cara ialah mencoba untuk “ikhlas”.
Dunia adalah tempat dimana dirimu sejatinya mencari tau siapakah dan untuk apa
kau hidup. Takdir yang Allah tentukan pastilah yang terbaik bagi
hamba-hambanya.
Sabarlah hati, yakinlah
pada Sang Khalik. Yakinlah pada takdir Allah pasti selalu yang tebaik bagi
kita, yakinlah Allah subhanahu wata’ala telah mempersiapkan masa depan yang
cerah bagi kita yang selau berjalan dalam koridor syari’atnya. Bagaikan seorang
yang yakin terhadap dokter yang menolongnya untuk sembuh, bagai yakinnya
seorang penumpang terhadap pilot pesawatnya yang akan mengantarkannya ketempat
yang ia tuju sekalipun ia tidak mengenali pilot pesawat tersebut.Yakin dan
sandarkan lah diri kita kepada Allah yang segalanya ada dalam “genggaman”-Nya, melebihi yakin kita
kepada mahkluk.
Cerita hebat yang
pernah aku lalui ini akan selalu menjadi pengisi didalam ruang ingatanku dan
menjadi pengalamanku yang berharga. Pada waktu yang sama, bulan ramadhan yang
penuh berkah ini, akan menjadi pengingatku. Akan selalu menjadi kenangan betapa
dalam hidup harus berjuang, menjadi pukulan
kesadaran bahwa tidak ada yang namanya kata “putus asa”, betapa harusnya aku keluar dari yang namanya zona nyaman, dan menjadi penyadar betapa
kasih sayang kedua orangtua ku kepada anaknya, begitu besar.

0 comments:
Post a Comment