Saturday, May 27, 2017

2016

Bulan ramadhan telah tiba, aku tengah berada di awal bulan yang penuh berkah ini. Suara diberbagai surau dan mesjid terdengar merdu sebagai peneman harian di bulan yang penuh berkah ini. Malam hari yang penuh dengan kehidupan, pagi dan siang hari yang kian sepi dari lalu-lalang, sore hari yang penuh warna akan para penjaja takjil bukaan puasa. Suasana yang selalu dirindukan oleh setiap insan yang hatinya merasakan nuansanya bulan berkah ini.

Selalu akan ada kenangan manis dari setiap orang yang dilewatinya dalam ramadhan. Dari tahun ke tahun, kenangan itu akan selalu bertambah, sehingga nian melukiskan perasaan manis didalam hati mereka. Baik bersama keluarga, sahabat, atau orang-orang yang dicintainya. Kenangan manis yang mungkin masih bisa diulang lagi pada ramadhan kali ini, atau bahkan ada yang tidak bisa mengulanngnya karena kekurangan suatu hal. Suatu hal tersebut bisa apa saja, diri sendiri pasti sadari apa sesuatu tersebut.

Akupun punya sebuah cerita dalam bulan ramadhan tahun lalu. Sebuah kenangan yang pastinya tidak akan aku lupakan dengan mudah. Cerita yang menjadi penyadar diriku akan betapa harusnya aku menjadi seorang yang tegar, menjadi seorang yang memiliki pendirian tetap, dan sebuah cerita yang kuanggap menjadi langkah awal masa depanku karena keputusan besar yang kuambil.

Disaat itulah aku merasakan bagaimana rasanya menjadi anak perantauan sesaat hahaha. Ya memang karena aku tidak pernah lepas dari jauh dari pengawasan orang tua ku walau diusiaku yang sekarang. Disaat itulah aku merasakan yang namanya “berjuang” walau hanya bagian kecil baru yang aku rasakan.

Telah banyak pula yang dikorbankan oleh orangtuaku ketika itu. Memang segala nikmat datangnya adalah dari Allah yang maha Kaya. Tapi waktu itu adalah mungkin pengorbanan yang paling berani seingatku oleh orangtua ku terhadapku, anak satu-satunya. Apa alasan mereka sampai sebegitunya terhadapku ? yang harus ku ingat, bahkan sampai kapanpun, itu semua karena rasa sayang mereka terhadapku, sayang yang tidak akan tergambarkan bahkan walau air laut didunia menjadi tintanya, rasa sayang yang bahkan ketika berdoa untuk mereka sendiri pun mereka hiraukan demi melebihkannya untuk ku.

Walau akhirnya Allah subhanahu wata’ala berkehendak lain. Bayangan indah yang hingga sempat terucap itu tidak menjadi suatu yang realistis. Angan-angan kedua orangtuaku yang tiba-tiba pupus dalam satu malam. Hatiku yang kalut dan kelabu karena mengetahui aku tidak bisa menyegerakan angan-angan dan melihat orangtuaku dalam kesedihan. Harapan yang seakan didepan mata akan dicapai. Langkah terakir yang kukira akan kulewati dengan mudah justru menjadi pukulan keras bagiku.

Aku tahu ketika itu orangtua ku sangat bersedih akan kegagalan yang aku derita, mereka mencoba menutupi kesedihannya dengan senyuman manis nan teduh yang mereka keluarkan ketika memberi nasehat dan bertatap mata dengan ku, sembari berkata “sudahlah nak, ini sudah resiko, ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagimu, masih banyak jalan lain yang bisa kamu ambil, Allah pasti memberikan yang baik bagimu dimasanya nanti”. Aku tahu betapa kelabunya langit pada malam itu, dengan tegar aku membalas kuatnya hati mereka dengan keikhlasan.

Memang begitulah hidup yang seharusnya, tidak akan selalu berakhir bak cerita drama korea yang penuh pengabul akan harap, tidak akan selalu seperti drama-drama FTV yang mengakirinya dengan suatu yang menyenangkan. Sadarlah yang disuguhkan kepada kita selama ini karena hanyalah sebagai pemuas keinginan dan hati para penontonya.

Begitu indah skenario Allah kepadaku. Telah begitu banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan. Tidak ada cara lain untuk memutar balik kembali waktu dan keadaan yang telah berlalu. Satu-satunya cara ialah mencoba untuk “ikhlas”. Dunia adalah tempat dimana dirimu sejatinya mencari tau siapakah dan untuk apa kau hidup. Takdir yang Allah tentukan pastilah yang terbaik bagi hamba-hambanya.

Sabarlah hati, yakinlah pada Sang Khalik. Yakinlah pada takdir Allah pasti selalu yang tebaik bagi kita, yakinlah Allah subhanahu wata’ala telah mempersiapkan masa depan yang cerah bagi kita yang selau berjalan dalam koridor syari’atnya. Bagaikan seorang yang yakin terhadap dokter yang menolongnya untuk sembuh, bagai yakinnya seorang penumpang terhadap pilot pesawatnya yang akan mengantarkannya ketempat yang ia tuju sekalipun ia tidak mengenali pilot pesawat tersebut.Yakin dan sandarkan lah diri kita kepada Allah yang segalanya ada dalam “genggaman”-Nya, melebihi yakin kita kepada mahkluk.

Cerita hebat yang pernah aku lalui ini akan selalu menjadi pengisi didalam ruang ingatanku dan menjadi pengalamanku yang berharga. Pada waktu yang sama, bulan ramadhan yang penuh berkah ini, akan menjadi pengingatku. Akan selalu menjadi kenangan betapa dalam hidup harus berjuang, menjadi pukulan kesadaran bahwa tidak ada yang namanya kata “putus asa”, betapa harusnya aku keluar dari yang namanya zona nyaman, dan menjadi penyadar betapa kasih sayang kedua orangtua ku kepada anaknya, begitu besar.

Share:

0 comments:

Post a Comment